Membumikan Adiwiyata di Sekolah/Madrasah: Menjaga Bumi, Menunaikan Amanah Ilahi
Membumikan Adiwiyata di Sekolah/Madrasah:
Menjaga Bumi, Menunaikan Amanah Ilahi
Oleh: Inun Fitriyani, S.Pd., M.Si.
(Staf Pengajar di MTsN 1 Banyuwangi)
Pernahkah kita merenungkan mengapa lingkungan di sekitar kita semakin panas, cuaca makin tidak menentu, sampah semakin menumpuk, pernahkah kita berpikir kemana larinya sisa makanan, botol plastik, atau kemasan jajan yang kita buang setiap hari di sekitar kita? Di tengah aktivitas belajar yang padat, masalah sampah sering kali luput dari perhatian dan dianggap sebagai urusan sepele. Padahal, Al-Qur'an secara tegas memberikan peringatan dalam Surah Ar-Rum ayat 41: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia." Akankah kita menjadi bagian tangan-tangan perusak yang dimaksud dalam ayat ini? Atau sebaliknya kita sebagai pioneer penyelamat kerusakan yang dimaksud. Semua pilihan ada di tangan kita dan tentunya kita menginginkan kebaikan untuk seluruh umat dan bumi kita.
Ayat tersebut bukan sekedar refleksi teologis, melainkan sebuah alarm keras untuk untuk kita semua. Sekolah sebagai lembaga pendidikan, terutama madrasah sebagai institusi pendidikan berbasis Islam, memikul tanggung jawab moral yang besar untuk berada di garda terdepan dalam menghentikan laju kerusakan bumi ini. Sebagai tempat menuntut ilmu sekaligus pusat pembentukan akhlak, sekolah/madrasah seharusnya menjadi pelopor terdepan dalam menyembuhkan bumi, bukan justru ikut menyumbang kerusakannya.
Gerakan Adiwiyata di lingkungan sekolah/madrasah hadir bukan hanya untuk mengejar selembar sertifikat atau penghargaan, namun sebagai instrumen strategis untuk mentransformasikan kesadaran lingkungan menjadi aksi nyata. Lebih dari itu, ini adalah bentuk nyata dari penerapan konsep Khalifah fil Ardh (pemimpin dan penjaga kelestarian bumi), manusia sebagai pemimpin, pengelola, dan penjaga kelestarian bumi atas amanah dari Allah SWT. Hal ini berarti manusia memiliki misi menjaga, merawat, dan memperbaiki keseimbangan alam semesta demi kelangsungan hidup bersama, Tugas utama manusia adalah memakmurkan bumi, bukan melakukan eksploitasi berlebihan yang memicu kerusakan. Manusia diberi kepercayaan untuk menegakkan aturan, kebaikan, dan nilai-nilai Ilahi dalam mengelola kehidupan. Di lingkungan sekolah/madrasah, kepedulian lingkungan harus menjelma menjadi karakter dan kebiasaan sehari-hari bagi seluruh peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan.
Setidaknya, ada lima aspek Perilaku Ramah Lingkungan Hidup (PRLH) sebagaimana tercantum dalam Permen LH No. 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Program Adiwiyata yang wajib dihidupkan oleh seluruh warga sekolah/madrasah sebagai wujud keimanan kita. Aspek pertama adalah kebersihan dan sanitasi. Islam sangat mengagungkan kesucian melalui penegasan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Menjaga toilet tetap bersih, memastikan saluran air lancar, dan menjaga ruang kelas tetap higienis adalah bentuk ibadah nyata. Keimanan seseorang seharusnya tercermin dari seberapa bersih lingkungan tempat ia sujud dan menuntut ilmu.
Aspek kedua adalah pengelolaan sampah. Konsep zero waste sangat selaras dengan larangan berbuat mubazir dan merusak alam dalam perspektif Islam. Sampah yang tidak dikelola dengan baik adalah manifestasi dari perilaku konsumtif yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, pembiasaan pengelolaan sampah di sekolah/madrasah harus diintegrasikan melalui ekosistem yang konsisten. Langkah ini dimulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari dalam ruang kelas. Warga sekolah/madrasah, mulai dari pimpinan, guru, peserta didik, tenaga kependidikan hingga petugas kantin, harus diedukasi untuk menolak penggunaan plastik sekali pakai dan beralih ke wadah yang dapat digunakan kembali. Pembiasaan ini memang memerlukan pemaksaan secara struktural pada awalnya, namun tujuannya adalah membentuk karakter budaya jangka panjang. Ketika seorang peserta didik terbiasa memilah sampah dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkannya di sekolah/madrasah, ia sedang mempraktikkan esensi dari ajaran Islam tentang kesucian (thaharah) dalam arti yang lebih luas. Pengelolaan sampah yang konsisten tidak hanya mereduksi volume limbah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mampu mendatangkan nilai guna baru melalui konsep daur ulang sampah anorganik, pembuatan kompos dan juga budi daya Maggot.
Aspek ketiga adalah menjaga keanekaragaman hayati. Menanam pohon, merawat taman sekolah/madrasah, dan menghijaukan sudut-sudut sekolah/madrasah bukan sekadar kegiatan estetika belaka. Rasulullah SAW. pernah bersabda bahwa setiap pohon yang ditanam dan buahnya dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, maka hal itu bernilai sedekah bagi penanamnya. Dengan merawat tanaman, sekolah/madrasah sedang membangun pabrik sedekah oksigen yang tak pernah berhenti mengalirkan pahala. Aspek keempat dan kelima adalah konservasi air dan energi. Air dan listrik adalah nikmat Allah yang sering kita sepelekan. Menghemat air saat berwudu, segera mematikan keran yang bocor, serta mematikan lampu dan kipas angin kelas setelah selesai belajar adalah tindakan konkret berwawasan lingkungan. Ingatlah, Rasulullah melarang kita berlebihan dalam menggunakan air, bahkan saat kita berwudu di sungai yang mengalir deras sekalipun.
Mengubah perilaku seluruh warga sekolah/madrasah memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, ketika kita menyadari bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari syariat, maka membuang sampah pada tempatnya atau mematikan lampu yang tidak terpakai akan terasa sebagai sebuah kewajiban moral yang ringan. Melalui langkah kecil yang konsisten dari dalam koridor sekolah/madrasah, kita sedang memberikan kontribusi besar untuk menyembuhkan bumi, sekaligus menunaikan amanah ketuhanan yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Mari kita jadikan sekolah/madrasah kita sebagai oase hijau yang menyejukkan bumi sekaligus menenangkan hati, tempat di mana ilmu duniawi dan ukhrawi menyatu dalam indahnya akhlak peduli lingkungan.
Banyuwangi, 29 Agustus 2026

Komentar
Posting Komentar