Satu Siswa Segenggam Sampah Menuju Madrasah Bebas Sampah


 

Satu Siswa Segenggam Sampah Menuju Madrasah Bebas Sampah

Oleh: Dra.Sulistyowati,M.Pd

Lingkungan madrasah yang bersih adalah dambaan setiap warga madrasah, madrasah tidak hanya sebagai tempat belajar namun juga tempat pembentukan karakter. Salah satu karakter baik yang ingin dibudayakan adalah karakter peduli lingkungan. Melalui tema “Satu Siswa Segenggam Sampah Menuju Madrasah Bebas Sampah” kita diajak untuk mengambil, memilah dan mengolah sampah dengan bijak agar lingkungan madrasah tetap bersih, nyaman, sehat dan asri.  

Harapan lingkungan madrasah tetap bersih sebagaimana kaadaan setiap pagi hari akan terwujud jika slogan satu siswa segenggam sampah dapat dilaksanakan oleh seluruh siswa. Satu siwa segenggam sampah terlihat kecil namun bila dilaksanakan oleh seribu siswa maka akan terkumpul seribu genggam sampah. Lingkungan yang bersih dipagi hari karena ada petugas yang menyapu halaman, namun apakah kondisi seperti itu akan berlangsung sepanjang hari? ternyata tidak. Saat istirahat berlangsung seluruh siswa bertransaksi membeli makanan dan minuman dan diwaktu inilah sampah bermunculan bak jamur di musim penghujan.

Program satu siswa segenggam sampah memerlukan sikap konsisten dari seluruh warga madrasah tak terkecuali para pelaku wirausaha seperti kantin dan minimarket. Sampah yang timbul di madarasah penyumbang terbesarnya adalah dari kegiatan wirausaha tersebut. Sebenarnya seberapapun besarnya sampah yang timbul bila warga madrasah memiliki kesadaran tentang bagaimana mengelolanya hal itu tidak akan memperburuk kondisi kebersihan di lingkungan madarasah. Namun alangkah baiknya kita berusaha agar timbulan sampah seminimal mungkin.

Untuk mengurangi timbulan sampah hendaknya kita mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, membawa tumbler dan kotak makanan. Kemasan makanan dan minuman pabrik yang kebanyakan berjenis plastik kita bisa memanfaatkan dengan mengumpulkan, memilah dan mengolah kembali palstik-plastik tersebut menjadi aneka kerajinan atau yang paling mudah menjualnya. 

Kegiatan mengumpulkan sampah yang berserak itulah yang menjadi krusial karena tidak setiap warga madrasah peduli, bahkan saat bapak ibu guru meminta tolong untuk memungut, mereka menyampaikan kalau bukan dirinya yang membuang sampah di tempat itu. Satu siswa segenggam sampah membutuhkan kesadaran, komitmen dan berkelanjutan dari setiap warga madrasah. Biasakan untuk bertanya kepada diri sendiri, “Jika bukan saya yang mengambilnya, siapa lagi?”

Langkah kecil yang kita ambil hari ini jika dilakukan secara konsinten akan menjadi perubahan yang besar di kemudian hari, karena membudayakan suatu kebiasaan baik tidak bisa terjadi secara instan. Memungut segenggam sampah oleh seorang siswa mungkin terlihat sepele atau bahkan beberapa orang merasa tidak nyaman melakukannya, tetapi jika dilakukan bersama-sama setiap hari, itu akan menciptakan gerakan yang luar biasa. Satu siswa, satu genggam sampah, seribu siswa, seribu genggam perubahan. Ayo! kita wujudkan madrasah yang bersih, sehat, hijau, nyaman, dan bebas sampah melalui kepedulian yang dimulai dari diri sendiri dan saat ini.

“Ambil, pilah, dan kelola sampahmu. Karena madrasah yang bersih adalah cermin warga madrasah yang peduli.”

  

        Banyuwangi, 27 agustus 2026

        Penulis



        Sulistyowati


 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peringatan Hari Guru di MTsN 1 Banyuwangi, Diwarnai Teatrikal Guru dan Siswa yang Penuh Makna Serta Pemberian Penghargan untuk Guru

Satu Lagi Event Menulis Buku Antologi Kompilasi Penyair 3 Negara Berhasil diikuti Oleh Guru MTsN 1 Banyuwangi

MTsN 1 Banyuwangi Hadir dalam Malam Penuh Kata dan Makna: Diskusi Sastra Bareng Prof. Tengsoe Tjahyono di Banyuwangi